Login
Home
Selamat Datang Di Situs Komunitas GKJW Jemaat Madiun.
PEMUDA / REMAJA JEMAAT MADIUN MENGIKUTI
NATAL PEMUDA SE MD MADIUN
Perayaan NATAL pemuda MD Madiun di gelar di Jemaat Ngawi, Minggu 08 Januari 2012. Acara di awali pujian dari Pemuda Ngawi dengan iringan BAND dan dilanjutkan Ibadah / pesan Natal yg disampaikan oleh Pdt. Krisyanti Retno Wahyuni, S.Si.
NATAL adalah perjumpaan dengan Allah dan sesama. Yang hari ini digelar bersama dengan mengadakan PAGELARAN MUSIK KONTEMPORER. Kami tidak mencari menang, tapi kami ingin bertemu dengan teman-teman pemuda/ remaja se-MD...........siapa tahu ada yg nyantol! itu yg terucap dari seorang peserta.
Pagelaran Musik adalah sarana, bukan sebuah tujuan. Sarana untuk mengadakan perjumpaan......dan ternyata semua Jemaat se MD Madiun (12 jemaat) menampilkan dan mempersembahkan pujian kepada SANG KHLAIK.
Puji Tuhan,....puji TUHAN.................. Sekali merdeka....tetap merdeka; Sekali GKJW tetap GKJW; sekali YESUS tetap YESUS...............





MEMASUKI TAHUN 2012 BERSAMA YESUS
Banyak orang meramalkan..apa yg akan terjadi pada tahun 201! namanya ramalan manusia satu dengan yang lain berbeda. Melihat dari sisi mana mereka meramalkan. Misalnya menurut tahun Cina, tahun 2012 adalah tahun Naga Air, yg mempunyai arti tenang tapi / berbahaya / banyak gejola. Menurut hitungan Jawa, tahun 2012 berjumlah 5 dan itu jatuh pada rieg (rusak / kondisi yg rusak parah). Dan ramalan-ramalan lainnya yg kadang membuat banyak orang bingung bahkan takut.
Suasana memang tidak menentu, ke depan memang kita tidak tahu apa yg akan terjdi. Tapi tidak perlu kuatir bagi kita yg percaya pada Tuhan Yesus. Karena Dia telah hadir dan menemani dalam kehidupan kita setiap hari. PERCAYAKAN HIDUP KEPADA DIA SAJA DENGAN CARA MELAKUKAN FIRMANNYA. Seperi Apa yg difirmankan Allam dalam Masmur 119:105, "Firmanmu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku".
PEGANG TANGAN YESUS YG SUDAH TERULUR.......BIARLAH KAMU DITUNTUN KEMANAPUN IA MENGINGININYA. IKUT DIA DENGAN SETIA PASTI....................HIDUPMU TERBERKKATI
Salam.
GKJW KEMARIN, SEKARANG DAN ESOK
Oleh:
Pdt. EKO ADI KUSTANTO
(KPTD)
Purwa Wacana
Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) lahir di Jawa Timur pada hari Jum’at Pon tanggal 11 Desember 1931, maka pada hari Minggu Pon tanggal 11 Desember 2011 nanti genap berusia 80 tahun. Ketika lahir ia bernama Pasamuwan-pasamuwan Kristen Djawi ing Tanah Djawi Wetan, kemudian berproses menjadi de OostJavaansche Kerkberdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 53 (Staattsblad No. 372) tertanggal 27 Juni 1932. Akhirnya menyandang nama Greja Kristen Jawi Wetan seperti yang sekarang ini berdasar keputusan Sidang Majelis Agung (MA) tanggal 6 November 1969 di Swaru – Malang. Sekarang ini GKJW sudah berbiak menjadi 158 jemaat yang tersebar di seantero Jawa Timur.
Ada banyak versi tentang bagaimana Kekristenan sendiri bisa masuk ke Indonesia. Kalau hanya berdasarkan pada sumber resmi, maka runutan kita hanya bisa menjangkau ke masa masuknya orang-orang Eropa ke Nusantara. Namun apakah hanya di situ jangkauan kita? Jawaban akan hal ini memang masih dalam perdebatan. Bisa diduga bahwa pasti ada begitu banyak ragam dinamika yang dialami, karena jelas-jelas Timur Tengah sebagai tanah tumpah darah Kekristenan mempunyai konteks yang sangat berbeda dengan Jawa Timur, di mana benih-benih Kekristenan itu ditaburkan.
CORAK TEOLOGI GKJW AWAL
Jikalau ditelusur lebih jauh, sesungguhnya Kekristenan yang ada di Jawa Timur berasal dari dua aliran besar yaitu:
1. Tradisi Gereja Timur (Nestorian- Persia)
Tradisi Kekristenan Timur diwakili oleh tradisi gereja Nestorian dari Persia yang diperkirakan sudah ada di Jawa Timur semenjak jaman kerajaan Majapahit di abad XIV. Keberadaan kekristenan pada masa ini diperkuat data yang berupa surat dari Vatikan yang sampai saat ini disimpan di Kentungan –Jogjakarta yang menjelaskan bahwa ada beberapa orang Kristen Nestorian yang pernah tinggal di wilayah kerajaan Majapahit.
Jejak kekristenan Nestorian di kerajaan Majapahit ini juga nampak dari adanya mitologi yang berkembang di masyarakat Jawa Timur yaitu: pertama,adanya mitology yang berkembang dimasyarakat Jawa Timur tentang nabi Elia yang bertapa di atas gunung Kelud dan yang akan kembali pada masa anti-Krist nanti. Ke dua,mitologi yang juga berkembang adalah sehubungan dengan salah seorang pangeran Majapahit yang dianggap keturunan orang Majus. Kebenaran dari mitologi ini memang sumir tetapi cukup kental berkembang di dalam masyarakat Jawa Timur. Namun setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa kekristenan yang telah berada di Jawa Timur telah mengalami inkultirasi dengan budaya Jawa.
2. Protestanisme Eropa
Tradisi kekristenan Protestanisme Eropa ini memasuki bumi Jawa Timur kurang lebih pada abad XVII melalui jalur perdagangan. Corak teologi Protestanisme yang masuk ke Jawa Timur adalah Calvinis Liberal dan juga bercorak pietis. Karena melalui jalur perdagangan maka pada awal masuknya kekristenan tidak ditujukan khusus untuk mengkarbarkan Injil. Sampai masa pendudukan Belanda di Indonesia, pengkabaran Injil bukanlah suatu tujuan dari ke datangan Belanda. Bahkan pemerintah Hindia Belanda melarang pengkabaran Injil di wilayah Indonesia jikalau dianggap mengganggu stabilitas pemerintahan. Daerah yang oleh pemerintah Hindia Belanda dilarang untuk diinjili misalnya adalah Bali dan Banten.
Dua corak teologi di atas mengalami pertemuan satu dengan yang lainnya dan kesemua menjadi cikal bakal teologi GKJW. Memang sempat ada ketegangan di antara mereka terkait dari perbedaan corak teologis tersebut, tetapi mereka bisa tetap hidup berdampingan dan saling menyokong kehidupan satu sama lain, tanpa yang satu menafikan atau mengabaikan yang lain. Mereka tetap saling menghormati dan mengasihi satu sama lain.
Ternyata peta corak teologis di bumi Jawa Timur setelah berdirinya GKJW, juga tidak mengalami perubahan secara signifikan, bahkan sampai saat ini. Masih ada kelompok yang gemar dengan gaya mukjizat yang bersifat ajaib sebagai ganti para dukun Jawa seperti Ibrahim Tunggul Wulung. Ada pula yang berpikiran maju dan rasional seperti Paulus Tosari. Atau ada yang berpikiran konservatif Kristen dan sulit menerima tradisi lokal seperti Karolus Wiryoguno. Sebaliknya ada yang masih suka melestarikan tayub, menyimpan pusaka, jimat dan sebagainya seperti Abisai Ditotaruno. Corak teologi ini saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan menjadikan wajah GKJW semakin berwarna. Bahkan GKJW yang berdiri pada tanggal 11 Desember 1931, selang satu tahun yaitu 1932 telah melakukan sebuah pekabaran Injil di pulau Bali. Secara organisatoris memang masih bayi tetapi semangat misionernya sangatlah dewasa. Ini sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa GKJW bukanlah gereja yang mandeg memikirkan diri sendiri tetapi juga gereja yang terus berkembangdan brupaya memenuhi panggilan Tuhan Yesus.
BAGAIMANAKAH CORAK TEOLOGI GKJW SEKARANG ?
Tanpa disadari sampai saat ini GKJW juga memiliki corak teologi yang bermacam-macam walau sudah tidak dapat dipisahkan secara tegas kelompok-kelompok teologinya. Ada banyak jemaat yang menekankan gaya mujizat yang bersifat ajaib seperti kelompok Tunggul Wulung jaman dulu. Ada jemaat-jemaat yang sangat menekankan rasionalitas dan modernisasi seperti kelompok Paulus Tosari. Ada juga jemaat-jemaat yang berfikiran konservatif dan menolak dengan keras segala tradisi lokal termasuk adat-istiadat Jawa seperti kelompok Karolus Wiryoguno. Tetapi ada juga sebagai jemaat yang sangat kompromis terhadap adat-istiadat seperti menyimpan jimat, pusaka seperti kelompok Abisai Ditotaruno.
Dalam koteks MD Madiun juga memiliki corak dan ragam tersendiri. Ada beberapa hal yang dapat dipaparkan ketika kita berbicara konteks jemaat-jemaat se MD Madiun yaitu:[2]
1. Jemaat-jemaat MD Madiun letak penyebaran wilayahnya saling berjauhan yang meliputi wilayah kabupaten Pacitan terdiri dari 1 jemaat, Ponorogo terdiri dari 2 jemaat, Madiun terdiri dari 3 jemaat, Ngawi terdiri dari 4 jemaat dan kabupaten Magetan terdiri dari 2 jemaat. Ke dua belas jemaat ini juga terletak di perkotaan, kota kecil, dan juga pedesaan. Dilihat dari letak geografisnya ini maka GKJW MD Madiun memiliki kekhasan masing-masing yang satu dengan lainnya tidak dapat diseragamkan. Akibatnya bagi teologi warga jemaat juga sangat berbeda antara jemaat satu dengan jemaat yang lain. Perasaan guyub menjadi lebih cair.
2. GKJW MD Madiun tidak hanya beranggotakan orang-orang dari suku Jawa saja karena di MD Madiun jemaat-jemaatnya banyak yang beranggotakan suku luar Jawa seperti Ambon, Batak, NTB dll. Ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perwajahan GKJW MD Madiun sebab masing-masing warga jemaat dengan latar belakang suku berbeda juga membawa tradisi berbeda dalam bergereja. Akibatnya, jemaat-jemaat di MD Madiun mengalami percampuran budaya.
3. GKJW MD Madiun beranggotakan warga yang memang terlahir dari GKJW dengan menganut gaya ber-GKJW tetapi banyak juga warga pendatang dengan latar belakang gereja asalnya. Ini mengakibatkan ada sebagain warga yang sangat mempertahankan tradisi GKJW tetapi juga ada sebagian warga yang tidak terlalu merisaukan tradisi GKJW. Jikalau dua kutup pemahaman ini tidak terjembatani maka bisa menjadi pemicu perpecahan dalam jemaat. Permasalahan yang mengemuka di sini adalah rasa andarbeni GKJW.
4. Teologi gereja-gereja pentakostal-kharismatik disekitar GKJW MD Madiun juga sangat kuat pengaruhnya. Akibatnya, banyak pemahaman teologi gereja tersebut juga dianut oleh warga GKJW di MD Madiun. Misalnya: perpuluhan, KKR, penyembuhan ilahi dan lain sebagainya. Di sisi lain warga yang terlahir di GKJW sedang mencari-cari pedoman teologi GKJW. Ada harapan besar di GKJW ini ada standart baku sebagai alat ukur teologi.
5. Pola pikir mistis masih cukup kuat dimana pengalaman batin dari seseorang sangat ditekankan. Pemahaman ini memiliki pengaruh bagi gereja karena orientasi iman kini bukan lagi kepada komunitas tetapi individual. Akibatnya, gereja dipandang sebagai alat pendidikan yang sangat penting untuk orang-orang yang belum mencapai kesalehan. Organisasi dan lembaga gereja sering dikesampingkan karena penekanannya kepada gereja adalah lembaga yang men-salehkan warganya.
TANTANGAN GEREJA MASA KINI
Sementara ketika kita melihat konteks masyarakat kita saat ini ada banyak tantangan yang harus dijawab oleh gereja. Tantangan itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu:
1. Radikalisme.
Kata ‘radikal’ berasal dari kata dasar ‘radic’ atau ‘radix’ yang artinya adalah ‘akar’. Semula gerakan radikal merupakan gerakan untuk kembali ke akar semula. Namun di dalam perkembangannya, gerakan radikal dikonotasikan sebagai gerakan yg mengarah kepada ekstremitas, yang menghalalkan tindak kekerasan di dalam memperjuangkan idealismenya. Gerakan ini mencakup ranah agama maupun politik. Seiring dengan melemahnya pemerintahan, gerakan ini mendapat momentum untuk memperlihatkan taringnya dengan melakukan tekanan-tekanan sosial di tengah masyarakat.
Pemicu gerakan radikalisme adalah pola pikir eksklusif (menutup diri dari interaksi dengan komunitas lain) dan pola pikir apologetik (merasa diri sebagai satu-satunya komunitas yang benar dan komunitas diluarnya dianggap salah). Jika pola pikir tersebut di bawa dalam ranah agama maka yang sering muncul adalah kekerasan atas nama agama. Dalam situasi ini maka yang terpenting adalah jumlah massa. Semakin banyak massa semakin memiliki kuasa. Hukum rimba yang mengedepan dalam tatanan kehidupan yang seperti ini.
2. Industrialisme
Industrialisme merupakan ahli waris modernisme yang paling progresif dan masif dalam mengefisienkan dan mengefektifkan kehidupan. Di sini manusia bergantung penuh kepada mesin.Kenyataannya warga masyarakat hampir tidak pernah dipersiapkan untuk hidup dalam atmosfir serba mesin. Dalam masyarakat industrial, laba adalah panglima di atas segalanya. Akibatnya dalam kehidupan adlah ketimpangan sosial merajalela, kemanusiaan dinilai dengan uang. Persaingan tidak pernah berjalan seimbang. Akibatnya, pemilik modallah yang berkuasa sehingga bagi yang tidak memiliki modal akan tersingkir.
Industrialisme ini merambah semua dimensi kehidupan. Sektor pendidikan, politik, ekonomi, komunikasi dan bahkan juga agama. Ekploitasi alam semakin tidak terkendali dan menghancurkan alam ciptaan Tuhan. Korban sosial semakin menjadi-jadi sehingga ketimpangan dimana-mana. Kemunculan toko-toko waralaba menggilas habis pasar dan pedagang tradisional dan disisi lain masyarakat semakin konsumtif. Biaya hidup terus naik sementara penghasilan tetap atau bahkan menurun. Akhirnya, hidup ini dirasa semakin sulit dan berat yang ujung-ujungnya menimbulkan depresi sosial. Akibat depresi sosial ini ikatan suku, agama dan bahkan keluarga semakin renggang.
GKJW MENATAP MASA DEPAN
Sebagai gereja, GKJW mengimani bahwa dirinya adalah tubuh Kristus. Sebagai tubuh Kristus maka GKJW terpanggil sebagai rowang gawe Tuhan Yesus di dunia ini untuk mewartakan Kabar Sukacita (Injil). Wujud dari pewartaan Injil adalah dengan menjadikan gereja sebagai pembawa tatanan dunia yang penuh dengan damai sejahtera, adil dan penuh kasih. Dalam konteks MD Madiun ada banyak ciri khas yang dapat mewarnai wajah GKJW ke depan. Namun bagaimana corak di MD Madiun ini dapat menambah warna ? Adalah jikalau kita juga secara sadar, terencana memenuhi panggilan Tuhan Allah sebagai rowang gawe yang bersedia tumandang nyambut gawe. Dalam hal apakah itu dwujudkan ? Setidaknya dapat dilakukan dalam beberapa hal yaitu:
1. Penataan organisasi GKJW yang meliputi mekanisme kebijakan, kepemimpinan dan juga penataan pelayanan. Belajar dari corak teologi awal GKJW yang bermacam-macam dan praktek bergereja yang bervariasi ternyata GKJW tetap utuh sebagai tubuh Kristus. Modal utama yang menjadikan masing-masing perbedaan tetap dapat menyatu adalah karena pemahaman bahwa kita semua ini adalah dulur.
2. Corak teologi dan pemahaman jemaat-jemaat MD Madiun yang bermacam-macam juga modal tersendiri untuk merumuskan pelayanan gereja. Seperti juga paham teologi diawal kehidupan GKJW yang bermacam-macam dapat menjadi satu demikianlah juga kiranya dengan kita pada masa ini. Pemersatu kita adalah dengan menjadikan Alkitab sebagai pusat dari berbagai-bagai pemahaman teologi tersebut. Godaan terbesar dalam aneka corak teologi ini adalah menyeragamkan teologi (membakukan teologi GKJW sebagai standart untuk mengukur teologi lainnya). Belajar dari Rasul Paulus maka Rasul Paulus juga berkali-kali menolak dorongan untuk melakukan klaim penyeragaman iman, sebaliknya ia mele-takkan semua perbedaan itu di bawah terang Kristus. Secara diplomatis ia menanggapi perbedaan yang ada pada waktu itu secara adil (I Korintus 3:6, Roma 14:1-23 dll). Tuhan Yesus sendiri malah bersabda : “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi” (Mat 7:1).Dengan sangat terang Efesus 4:3-6 menuliskan “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Dengan begitu kita tidak lagi disibukkan oleh perbedaan yang nyatanya ada, kita sadar akan empan-papan masing-masing, karena sesuai dengan sabda inilah kita diarahkan dalam berolah rasa dan berolah pikir (epistemologi khas GKJW).
3. Masing-masing kita bisa saja mengidentifisir diri, menganut teologi apa saja. Namun setidak-tidaknya ikatan misioner kita kini menjadi jelas sesuai jabaran Efesus 4:3-6.Akan tetapi langkah kita tentu tidak berhenti hanya sampai wacana itu saja, sebab untuk menuntaskannya kita dituntut mampu mengimplementasikannya dalam tindakan-tindakan etis yang sungguh-sungguh nyata dalam dunia yang utuh ini (baik meliputi jagad cilik mau-pun jagad gedhe) di mana GKJW dibangun dan diutus oleh Tuhan Allah sendiri (Kej 2:15, Yes 6:8, Yer 29:7, Mat 14:16, Mrk 6:37, II Kor 5:20 dll.)Memang menarik menenggelamkan diri dalam sentimentil permenungan mistik, namum selaku mitra kerja (rowang-gawe) dari Tuhan Allah, kita justru diceburkan kedalam karya pelayanan yg tidak ada habisnya (Mat 9:36-38, Luk 10:1-3, Yoh 15:13-15). Melalui jalan lingkar yaitu karya pelayanan nyata (tumandang ing gawe) inilah mistik spiritualitas kita dibentuk.
AKHIRNYA....
Pada akhirnya, kita harus bertindak! Seheboh apapun khotbah-khotbah dikumandangkan, hanya akan dibuang ke tempat sampah apabila tidak menemukan implementasinya di lapangan. Sehebat apapun meditasi spiritual kita, hanya akan berbuah menyiksa raga, apabila tidak pernah memperoleh semangat belas kasih, kepedulian dan respon operasionalnya terhadap ketimpangan, ketidak-adilan dan perbudakan atas diri sesama. Modernitas telah banyak membuktikan bahwa dirinya bukanlah metode pencapaian angan-angan yang bebas nilai. Sebab ia juga menjadikan tindak kejahatan menjadi jauh lebih efektif dan efisien. Dan kesemuanya itu merupakan kenyataan yang terjadi persis di depan hidung kita. Iman percaya kita kepada Sang Khalik langsung ditantang olehnya. Apakah kita masih suka menyurutkan langkah dan melarikan diri bersembunyi di balik kesibukan romantisme ritual ibadah? Dan berdalih bahwa kita adalah gereja yang harus berbeda dengan gerakan-gerakan sosio-humanisme dunia?
KEPUSTAKAAN
- Akkeren, Philip van, Dewi Sri dan Kristus, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.
- Hale, Leonard, Jujur Terhadap Peitisme, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
- Keene, Michael, Alkitab, Kanisius, Yogyakarta, 2006.
- Magnis-Suseno, Franz, Etika Jawa – Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Gramedia, Jakarta, 1993.
- O’Donnel, Kevin, Postmodernisme, Kanisius, Yogyakarta, 2009.
- Panitia HUT ke-80 Tahun GKJW,Yesus Kristus Budayawan Sejati, Majelis Agung GKJW, Malang, 2011
- Soejatno, Ardi (dkk), Pergumulan Eklesiologi dan Misiologi GKJW, Majelis Agung GKJW, Malang, 2001
Minggu Advend II
Ing Dalem Kapandhitan GKJW Pacitan
Eko Adi Kustanto
